Rabu, 22 Mei 2013

Ontologi Ilmu Sains


ONTOLOGI ILMU SAINS
I.              PENDAHULUAN
            Jaman dulu orang cukup bisa hidup dengan pengetahuan langsung atau pengetahuan sehari-hari. Sekarang dan masa yang akan datang, manusia hanya akan bisa hidup dan mengembangkan kehidupannya dengan ilmu pengetahuan praktis yang mampu menciptakan teknologi mutakhir yang tepat guna (dengan tanpa meninggalkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam ilmu pengetahuan teoritis murni dan filsafat). Dengan demikian ilmu pengetahuan praktis semakin memberikan sifat khusus kepada manusia dewasa ini.[1]
                Beranjak dari  pengetahuan itulah ,secara garis besar bahwa filsafat memiliki tiga cabang yakni pengetahuan teori hakikat (ontologi), sumber dan bagaimana memperoleh pengetahuan (epistemologi) dan teori nilai atau kegunaan dari pengetahuan itu atau disebut aksiologi.
            Dalam persoalan ontologi orang menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini ?? pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan. Yang pertama ,kenyataan yang berupa materi (kebenaran) dan yang kedua yang berupa rohani (kejiwaan).[2]
            Harapan penulis, mudah-mudahan makalah ini dapat menguak tentang apa yang terkandung dalam pembahasan ontologi ilmu (sains) atau hakikat dari ilmu itu sendiri.

II.           PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN ONTOLOGI
          Ontologi adalah penjelasan tentang keberadaan atau eksistensi yang mempermasalahkan akar-akar (akar yang paling mendasar tentang apa yang disebut dengan ilmu pengetahuan itu). Jadi dalam ontologi yang dipermasalahkan adalah akar-akarnya hingga sampai menjadi ilmu (Suriasumantri,1993)[3]
          Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukan munculnya perenungan di bidang ontologi. Yang tertua diantara segenap filsafat Yunani yang kita kenal adalah Thales. Atas perenungannya terhadap air merupakan subtansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu.[4]
          Pembahasan ontologi mencakup hakikat segala yang ada (al-mujudat). Dalam dunia filsafat “yang mungkin ada” termasuk dalam pengertian “yang ada”. Dengan kata lain, “yang mungkin ada” merupakan salah satu jenis “yang ada” dan tidak dapat dimasukan ke dalam kelompok “yang tiada”, dalam arti tidak ada atau dalam bahasa lain “mustahil ada”.[5]
          Bidang pembicaraan teori hakikat luas sekali, segala yang ada dan yang mungkin ada ,yang boleh juga mencakup pengetahuan dan nilai (yang dicarinya ialah hakikat pengetahuan dan hakikat nilai). Nama lain untuk teori hakikat ialah teori keadaan (Langeveld).
          Apa itu hakikat ? Hakikat ialah realitas ; ralitas ialah ke-real-an; “real” artinya kenyataan yang sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu, bukan keadaan yang berubah, lihatlah pengandaian ini. Pada hakikatnya pemerintahan demokrasi menghadapi pendapat rakyat. Mungkin orang pernah menyaksikan pemerintahan itu melakukan tindakan sewenang-wenang, tidak menghargai pendapat rakyat . Itu hanyalah keadaan sementara, bukan hakiki ,yang hakiki pemerintahan itu demokratis. Kita melihat suatu objek fatamorgana. Apakah real atau tidak ? Tidak. Fatamorgana itu bukan hakikat, atau hakikat fatamorgana ialah tidak ada itu, itulah dua contoh.[6]              
             Pada saat ilmu mulai berkembang pada tahap ontologis ini, manusia berpendapat bahwa hukum-hukum tertentu yang terlepas dari kekuasaan mistis, yang menguasai gejala-gejala empiris. Dalam tahap ontologis ini manusia mulai mengambil jarak dari obyek sekitar, tidak seperti yang terjadi dalam dunia mistis, dimana semua obyek berada dalam kemestaan yang bersifat difus dan tidak jelas batas-batasnya. Manusia mulai memberikan batas-batas yang jelas kepada obyek kehidupan tertentu yang terpisah dengan eksistensi manusia sebagai subyek yang mengamati dan yang menelaah obyek tersebut. Dalam menghadapi masalah tertentu, dalam tahap ontologis manusia mulai menentukan batas-batas eksistensi masalah tersebut, yang memungkinkan manusia mengenal wujud masalah itu, untuk kemudian menelaah dan mencari pemecahan jawabannya.
          Agama berbeda dengan ilmu, mempermasalahkan pula obyek-obyek yang berada di luar pengalaman manusia, baik sebelum manusia ini berada dimuka bumi sebagaimana manusia di ciptakan maupun sesudah kematian manusia, seperti yang terjadi setelah adanya kebangkitan kembali. Perbedaan antar lingkup permasalahkan yang dihadapi juga menyebabkan perbedaan metode antara lingkup permasalahan yang dihadapi juga menyebabkan perbedaan metode.
          Ini harus diketahui dengan benar untuk dapat menempatkan ilmu dan agama dalam perspektif yang sesungguhnya. Tanpa mengetahui hal ini maka mudah sekali kita terjatuh dalam kebingungan. Padahal dengan menguasai hakikat ilmu dan agama secara baik, akan memungkinkan pengetahuan berkembang lebih sempurna, karena kedua pengetahuan itu justru saling melengkapi. Pada satu pihak agama akan memberikan landasan moral bagi aksiologi keilmuan, sedangkan di pihak lain ilmu akan memperdalam keyakinan beragama.[7]
         
B.     TENTANG ONTOLOGI ILMU
             Untuk memberi pemahaman yang lebih lengkap, maka kita cermati lebih awal dari aspek bahasa terlebih dahulu. Karena dengan bahasalah kita lebih banyak mendevinisikan atau memaknai sesuatu atau kejadian tertentu. Menurut bahasa (Yunani),on atau ontos berarti ada, sedangkan logos berarti ilmu ,ontologi berarti ilmu tentang yang ada. Menurut istilah ,ontologi ialah ilmu tentang hakikat yang ada, sebagai ultimate realitiy baik yang bersifat jasmani?kongrit maupun rohani /abstrak.
             Dalam cakupan filsafat ilmu, ontologi ilmu membicarakan hal-hal yang mendasar, yakni tentang hakikat ilmu, yaitu apa-apa saja yang di telaah oleh ilmu, bagaimana atau seperti apa wujud hakiki dari obyek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti; berpikir, merasa, mengindera, dan tentunya berkaitan dengan mengingat), dan struktur ilmu.[8]
          Menurut penulis ,sebelum mengetahui tentang hakikat dan struktur dalam ilmu, perlu diketahui terlebih dahulu pengertian ilmu atau sains.

Pengertian Ilmu
            Ilmu berasal dari bahasa Arab, ‘alama. Arti dasar dari kata ini adalah pengetahuan. Penggunaan kata ilmu dalam proposisi bahasa Indonesia sering disejajarkan dengan kata science dalam bahasa Inggris. Kata science itu sendiri memang bukan bahasa asli Inggris, tetapi merupakan serapan dari bahasa latin,Scio, scire yang arti dasarnya pengetahuan. Ada juga yang menyebutkan bahwa science berasal dari kata scientia yang berarti pengetahuan. Scientia bersumber dari bahasa latin  Scire yang artinya mengetahui. Terlepas dari berbagai perbedaan asal kata, tetapi jika benar ilmu disejajarkan dengan kata science dalam bahasa Inggris, maka pengertiannya adalah pengetahuan. Pengetahuan yang di pakai dalam bahasa Indonesia, kata dasarnya adalah “tahu”. Secara umum pengertian dari kata “tahu” ini menandakan adanya suatu pengetahuan yang didasarkan atas pengalaman dan pemahaman tertentu yang dimiliki oleh seseorang.
             Pendapat yang sama diungkapkan M. Quraisy Shihab. Ia berpendapat bahwa ilmu berasal dari bahasa Arab, ‘ilm. Arti dasar dari kata ini adalah kejelasan. Karena itu, segala bentuk kata yang terambil dari kata ‘ilm seperti kata ‘alm (bendera), ‘ulmat (bibir sumbing), ‘alam (gunung-gunung) dan ‘alamat mengandung objek pengetahuan. Ilmu dengan demikian dapat diartikan sebagai pengetahuan yang jelas tentang sesuatu.
            Penjelasan diatas juga menyiratkan bahwa hakikat ilmu bersifat koherensi sistematik. Artinya, ilmu sedikit berbeda dengan pengetahuan . ilmu tidak memerlukan kepastian kepingan-kepingan pengetahuan berdasarkan satu putusan tersendiri, ilmu justru menandakan adanya satu keseluruhan ide yang mengacu kepada objek atau alam objek yang sama saling berkaitan secara logis. Setiap ilmu bersumber didalam kesatuan objeknya. Ilmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan penalaran masing-masing orang. Ilmu akan memuat sendiri hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang sepenuhnya belum dimantapkan. Oleh karena itu, ilmu membutuhkan metodologi , sebab dan kaitan logis. Ilmu membutuhkan metodologi, sebab dan kaitan logis. Ilmu menuntut pengamatan dan kerangka berpikir metodik serta tertata rapi. Alat bantu metodologis yang penting dalam konteks ilmu adalah terminologi ilmiah.[9]

Rasional dan Empiris Ilmu
Masalah rasional dan empiris inilah yang akan dibahas. Pertama, masalah rasional. Dalam sains, pernyataan atau hipotesis yang dibuat haruslah berdasarkan rasio. Misalnya hipotesis yang dibuat adalah “makan telur ayam berpengaruh positif terhadap kesehatan”. Hal ini berdasarkan rasio : untuk sehat diperlukan gizi, telur ayam banyak mengandung nilai gizi, karena itu, logis bila semakin banyak makan telur ayam akan semakin sehat. Hipotesis ini belum diuji kebenarannya, kebenarannya barulah dugaan,tetapi hipotesis itu telah mencukupi syarat dari segi kerasionalannya. Kata “rasional” di sini menunjukkan adanya hubungan pengaruh atau hubungan sebab akibat.
Kedua, masalah empiris. Hipotesis yang dibuat tadi diuji (kebenarannya) mengikuti prosedur metode ilmiah.  Untuk menguji hipotesis ini digunakan metode eksperimen, misalnya pada contoh hipotesis di atas, pengujiannya adalah dengan cara mengambil satu kelompok sebagai sampel, yang diberi makan telur ayam  secara teratur selama enam bulan, sebagai kelompok eksperimen. Demikian juga, mengambil satu kelompok yang lain, yang tidak boleh makan telur  ayam selama enam bulan, sebagai kelompok kontrol. Setelah enam bulan, kesehatan kedua kelompok diamati.  Hasilnya, kelompok yang teratur makan telur ayam rata-rata lebih sehat. Setelah terbukti (sebaiknya eksperimen dilakukan berkali-kali), maka hipotesis yang dibuat tadi berubah menjadi teori. Teori ”makan telur ayam berpengaruh terhadap kesehatan” adalah teori yang rasional - empiris. Teori seperti ini disebut sebagai teori ilmiah (scientific theory).
Cara kerja dalam memperoleh teori tadi adalah cara kerja metode ilmiah. Rumus baku metode ilmiah adalah : logico - hypotheticom - verificatif (buktikan bahwa itu logis - tarik hipotesis - ajukan bukti empiris). Pada dasarnya cara kerja sains adalah kerja mencari hubungan sebab akibat, atau mencari pengaruh sesuatu terhadap yang lain. Asumsi dasar sains ialah tidak ada kejadian tanpa sebab. Asumsi ini benar bila sebab akibat itu memiliki hubungan rasional.[10]
Selain itu, ilmu pada dasarnya bebas nilai, artinya ilmu hanya memberi nilai benar atau salah terhadap sesuatu. Tidak pernah ilmu memberi nilai baik atau buruk, halal atau haram,sopan atau tidak sopan, indah atau tidak indah, perlu atau tidak perlu. Oleh pakar atau pengguna ilmu itulah kemudian sering berubah fungsi penilaiannya, jadi bukan oleh ilmu itu sendiri. Bahkan pada perkembangannya kita sering mendengar istilah, disamping rumpun sesuai dengan bidang kajian, adanya rumpun ilmu hitam yang penggunaanya untuk membantu niat tidak baik. Putih atau menjadi hitam tentu lebih dikarenakan oleh orang-orang yang menggunakan atas penguasaan ilmu tersebut. Atau pihak lain yang merasa terkenakan oleh penggunaan ilmu tersebut.[11]

Struktur Ilmu
            Pada awalnya ilmu tidak terpisah dengan filsafat, namun pada perkembangannya ilmu memisahkan diri dari filsafat, artinya bahwa filsafatlah sumber dari segala ilmu. Itulah sebabnya para filosuf biasanya menguasai berbagai ilmu. Mereka biasanya juga ahli dalam bidang fisika, astronomi, politik, bahasa, pendidikan dan sebagainya.
            Perkembangan filsafat dan tentu sekaligus pengetahuan memerlukan wadah kekhususan dari berbagai keahlian, maka munculah berbagai cabang filsafat dan sekaligus spesifik, dan bergantian dari filsafat. Maka terbentuklah struktur ilmu-ilmu yang terus berkembang sesuai dengan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli dan para peneliti. Selepas dari filsafat, ilmu secara garis besar dibagi menjadi dua, yakni ilmu kealaman dan ilmu sosial.
1.  Ilmu Alam
- Fisika : (Ilmu murni) :mekanika, hirodinamika, bunyi, cahaya, nuklir. (Ilmu  terapan) : mekanika teknik, desain kapal, teknik industri dsb.
- Kimia, Astronomi, Ilmu bumi, Ilmu hayat
2.  Ilmu Sosial
- Antropologi : Linguistik, arkeologi, entologi.
- Sosiologi, Psikologi dsb
Jika kita telusuri lebih lanjut sebagai salah satu contoh struktur berikutnya ,misalnya psikologi, maka akan kita dapatkan ikhtisar berikut :
Psikologi
-Teoritis :
a. Umum :  Meneliti dan menerangkan aktifitas kejiwaan manusia dewasa, normal, dan bersifat pada umumnya.
b. Khusus : Mengkaji dan mengurai gejala manusia yang bersifat khusus : 1).Psikologi perkembangan. 2).Psikologi sosial. 3).Psikologi kepribadian. 4).Psikologi abnormal. 5).Psikologi wanita, dsb.
-Praktis : Mempelajari tentang kejiwaan manusia untuk dipergunakan dalam praktek kehidupan sehari-hari : 1).Psikodiagnostik. 2).Psikologi sosial. 3). Psikologi industri. 4).Psikologi kriminal. 5).Psikologi keperawatan, dsb.
            Di tinjau dari sumbernya maka ilmu di golongkan atau dikategorikan ilmu yang berasal dari Tuhan langsung maupun melalui perantaraan malaikat kepada para Nabi dab Rasul dalam bentuk wahyu, dan ilmu yang dihasilkan oleh kreatifitas manusia melalui penalarannya tentang alam dan manusia ,bahkan tentang Tuhannya.
            Selain itu ,kemudian dapat dibedakan lagi menjadi ilmu teoritis (berbentuk hipotesis) dan ilmu praktis yakni sebagai implementasi dari ilmu teoritis.
            Selanjutnya masing-masing ilmu pengretahuan memiliki body of knowledge yang menggambarkan struktur dari ilmu yang bersangkutan, yakni dari hal-hal yang bersifat hakikat sampai kepada detail penjabarannya.[12]

Analisis Ontologi Ilmu Sains
            Dari penjelasan diatas dengan mengambil beberapa sumber buku tentang ontologi ilmu,maka penulis menganalisa bahwa sains pada hakikatnya ilmu yang bersifat rasional-empiris atau teori ilmiah yang dapat dibuktikan dengan pertautannya antara sebab dan akibat, jadi sains penyelidikannya melalui riset. oleh karena rasional-empiris tersebut maka struktur sains,secara garis besar  terbagi menjadi dua, yakni ilmu tentang kealaman dan ilmu tentang sosial.

III.             KESIMPULAN
            Menurut bahasa (Yunani),on atau ontos berarti ada, sedangkan logos berarti ilmu ,ontologi berarti ilmu tentang yang ada. Menurut istilah ,ontologi ialah ilmu tentang hakikat yang ada, sebagai ultimate realitiy baik yang bersifat jasmani?kongrit maupun rohani /abstrak.
            jika benar ilmu disejajarkan dengan kata science dalam bahasa Inggris, maka pengertiannya adalah pengetahuan. Pengetahuan yang di pakai dalam bahasa Indonesia, kata dasarnya adalah “tahu”. Secara umum pengertian dari kata “tahu” ini menandakan adanya suatu pengetahuan yang didasarkan atas pengalaman dan pemahaman tertentu yang dimiliki oleh seseorang.
Ilmu pada hakikatnya merupakan kumpulan teori yang disusun secara sistematis, yakni teori yang rasional empiris. Adapun yang dimaksud disini adalah teori ilmiah,yang di dapat dengan menggunakan metode ilmiah. Rumusan baku metode ilmiah ialah :logico-hiphothetico-verifcatif,  tunjukkan  logis-ajukan hipotesis-buktikan empirisnya. filsafatlah sumber dari segala ilmu. Itulah sebabnya para filosuf biasanya menguasai berbagai ilmu. Mereka biasanya juga ahli dalam bidang fisika, astronomi, politik, bahasa, pendidikan dan sebagainya.

IV.             DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, Amsal Filsafat Ilmu,  Jakarta :PT RajaGrafindo Persada, 2004.
http://www.masbied.com/2009/10/31/332/
Maifur, Filsafat Ilmu,  Bandung: CV.Bintang WarliArtika, 2008.
Riyanto,  Waryani Fajar, Filsafat Ilmu Integral [FIT},Yogyakarta:2012.
Soetriono & SRDm Rita Hanafie, Filsafat Ilmu  dan Metodologi Penelitian,  Yogyakarta: Andi,2007.
Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum , Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2004.
Zar, Sirajuddin ,Filsafat Islam ,Jakarta: PT.RajaGrafindo ,2004.




[1] Soetriono & SRDm Rita Hanafie,  Filsafat Ilmu  dan Metodologi Penelitian (Yogyakarta: Andi,2007),hlm.12.
[2] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta :PT RajaGrafindo Persada,2004),hlm.131.
[3] Soetriono & SRDm Rita Hanafie,  Filsafat Ilmu  dan Metodologi Penelitian (Yogyakarta: Andi,2007),hlm.61.
[4] Amsal Bakhtiar, loc.cit
[5] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam (Jakarta: PT.RajaGrafindo ,2004),hlm.7.
[6] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2004),hlm.28.
[7] Soetriono & SRDm Rita Hanafie,  op.cit.,hlm.62.
[8] Maifur, Filsafat Ilmu,(Bandung: CV.Bintang WarliArtika,2008),hlm.65.
[9] Waryani Fajar Riyanto, Filsafat Ilmu Integral [FIT},(Yogyakarta:2012), hlm.203-204.
[10] Maifur,op.cit.,hlm.65-66.
[11] Maifur,op.cit.,hlm. 66.

[12] Ibid,hlm.67-68