Rabu, 5 Februari 2014

Cara Syaitan Menghilangkan Iman



CARA SYAITAN MENGHILANGKAN IMAN


Dalam sebuah hadis diceritakan: Sesungguhnya Syaitan yang dilaknat oleh allah mendatangi dan duduk di atas kepala seorang hamba (yang sedang menghadapi sakarotul maut) dan berkata :
Tinggalkanlah agama ini dan katakanlah Tuhan ada dua agar engkau selamat dari kesusahan.”
Ketika itu ada kekhawatiran dan ketakutan yang sangat besar, oleh karena itu tetaplah dirimu agar selalu menangis dan tawadhu’ (rendah hati) kepada Allah dan bangun pada tengah malam dengan memperbanyak ruku’ dan sujud agar selamat dari siksa Allah.
            Imam Abu Hanifah pernah ditanya:
Apakah dosa yang paling dikhawatirkan dapat menghilangkan iman?” Dia menjawab, “Meninggalkan syukur atas iman, meninggalkan takut mati dan berbuat dzalim terhadap sesama.”
Maka orang yang dalam hatinya ada tiga sifat tersebut, biasanya ia keluar dari dunia sebagai seorang kafir, kecuali orang yang mendapatkan kebahagiaan.
Hal yang paling berat dirasakan mayit adalah rasa haus dan terbakarnya hati, padawaktu Syaitan mempunyai kesempatan untuk menghilangkan keimanan orang mukmin, karena sangat hausnya pada waktu itu Syaitan datang padanya dengan membawa tempat air dari es yang menggerak-gerakkannya. Maka berkatalah orang mukmin, “Berikanlah aku air” dia tidak tau bahwa ia Syaitan. Maka Syaitan berkata; “Katakanlah tidak ada yang menciptakan alam, maka engkau ku beri air”.
Jika orang itu (mendapatkan kebahagiaan) maka ia tidak menjawab. Kemudian Syaitan datang pada telapak kakinya dan menggerak-gerakkan tempat air, orang mukmin itu berkata;”Berilah saya air  maka berkatalah Syaitan,: “Katakanlah Rasulullah pembohong, maka engkau akan diberi air.” Jika orang itu (celaka) dia akan menurutinya karena tidak sabar dalam kehausan, dan dia akan keluar dari dunia sebagai orang yang kafir (semoga Allah Swt melindungi kita dari hal tersebut), dan jika orang itu (mendapatkan kebahagiaan) maka dia akan menolak permintaan Syaitan dan dia memikirkan akibatnya.




Imam Abdurrahim bin Ahmad al-Qadhi, Daqaiq al-Akhbar, (Semarang:Toha Putra,t.t),hlm.9.




Tiada ulasan:

Catat Ulasan