Jumaat, 11 Oktober 2013

Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab

Kitab Al-Majmu karya An-Nawawi merupakan referensi fikih terbesar madzhab Asy-Syafi’i secara khusus dan fikih Islam secara umum. Selain juga merupakan bagian dari kekayaan klasik Islam yang murni dan sok khazanah fikih perbandingan. Kitab yang sangat monumental ini memiliki karakter khusus yang membuatnya berbeda dari segi metodologi ilmu yang akurat, sehingga membuatnya berada di tempat teratas dibanding ensklopedi-ensiklopedi fikih lainnya, baik klasik maupun kontemporer.
Tidak diragukan lagi, kitab Al-Majmu’ merupakan khazanah terbesar bidang fikih Islam yang isinya menjelaskan konsep-konsep dasar dari hukum Islam yang membuat para ulama setelahnya kagum.
Orang yang pernah mengkaji kitab-kitab induk terbesar dalam fikih Islam di berbagai madzhab, seperti Al Muhalla karya Ibnu Hazm, Al-Umm karya Asy-Syafi‘i. Al-Mughni karya Ibnu Qudamah dalam fikih madzhab Hanbali dan kitab Al-Mabsuth karya As-Sarkhasi, akan menemukan bahwa kitab Al Majmu’ karya An-Nawawi merupakan salah satu referensi terbesar yang penuh dengan pendapat-pendapat fikih keempat imam madzhab dan lain-lainnya, sekalipun fokus pembahasannya di tingkat pertama khusus tentang fikih Asy-Syafi’i.
Kitab Al-Majmu ‘ berbeda dari kitab-kitab fikih induk lainnya, dimana cakupan isinya memuat seluruh pendapat-pendapat madzhab berikut dalil dalilnya disamping menyebutkan pentarjihan diantara pendapat-pendapat ini. Tak ada yang paling menunjukkan keluasan wawasan An-Nawawi dan kedalaman ilmunya selain dari penjelasannya terhadap isi kitab Al-Muhadzdzab karya Asy-Syirazi yang berjumlah sekitar 120 halaman menjadi 9 jilid kitab Al-Majmu’. Namun sayangnya ia meninggal dunia lebih cepat sebelum sempat menyelesaikan Syarh Al-Muhadzdzab berdasarkan methodologi ilmiah yang telah ia tetapkan dan dipegangnya, Dari pen-takkrij-an hadits-hadits hukum, penjelasan maknanya, penyebutan seluruh pendapat para imam dari kalangan ahli fikih dan pentarjihan diantara pendapat-pendapat tersebut serta madzhab-madzhab mereka, penjelasan kecacatan hadits, status hadits dan biografi para perawinya, penafsiran kalimat-kalimat yang langka dari Al Qur’an dan hadits serta penjelasan kosa kata yang terdapat dalam redaksi kitab Al-Muhadzdzab, membuat kitab Al-Majmu’ benar-benar merupakan ensiklopedi umum dalam bidang fikih, hukum, tafsir ayat-ayat Al Qur’an dan hadits, keunikan bahasa serta biografi para ulama terkemuka dari kalangan perawi dan ahli hadits.
Namun, An-Nawawi -rahimahullah- meninggal sebelum menyelesaikan kajian ilmiyahnya dalam menguraikan kitab Al-Muhadzdzab pada abad ketujuh Hijriyah karena ia meninggal dunia lebih awal pada tahun 676 H setelah memenuhi dunia dengan ilmu dan karya tulis, maka selanjutnya tugas mulia ini diambil alih oleh salah seorang ulama terkemuka, yaitu Taqiyuddin As-Subki, seorang Syaikhul Islam di masanya. Ia dilahirkan di desa Subuk dari wilayah kabupaten Monofia pada tahun 683 H dan wafat pada tahun 756 H.
An-Nawawi adalah kebanggaan ulama Syam. Begitu pula dengan As-Subki, dia adalah kebanggaan bagi bangsa Mesir dan salah juga ulamanya. Sang imam yang handal dalam bidang fikih ini menyelesaikan bagian pertama Syarh Al-Muhadzdzab dari akhir syarah An-Nawawi pada awal bab mu ‘amalat. Selain itu, ia mengikuti metodependahulunya dalam menjelaskan kitab Al-Muhadzdzab karya Asy-Syirazi. , ia meninggal dunia lebih awal setelah menyelesaikan tiga jilid dari kitab Al majmu’ sehingga jumlah keseluruhannya menjadi 12 jilid. Setelah itu
warisan Islam ini selama hampir 6 abad tetap menjadi manuskrip-manuskrip arkeologi di perpustakaan umum Timur dan Barat. Sebagiannya di Turki, sebagiannya di Eropa dan sebagian lainnya di perpustakaan Mesir. Kitab ini menjadi harta simpanan terpendam yang tidak mendapatkan perhatian para ahli fikih selama 6 abad. Kecuali sedikit penjelasan (syarah) dari Ibnu Ar Rakbi atas isi Al-Muhadzdzab.
Kemudian Allah Azza wa Jalla menizinkan kitab ini lepas dari “kurungan” perpustakaan dan menuju dunia penerbitan hingga para Ahli Fiqih dapat memanfaatkannya dan para praktisi hukum bisa mengambil isinya. Lalu Alloh Azza wa Jalla mengirimkan beberapa ulama yang sangat menaruh perhatian besar terhadap kekayaan peninggalan Islam untuk memberikan tahqiq dan ta’liq-nya.

Syeikh At Tarmusi, Penyambung Sanad Ulama Nusantara


Beliau adalah Al Allamah Al Muhaddits Al Musnid Al Faqih Al Ushuli As Syeikh Muhammad Mahfudz. Lahir di Tarmas (Termas) Jawa Tengah pada tanggal 12 Jumadi Al Ula 1285 H, dikala ayah beliau bermukim di Makkah. Beliau diasuh oleh ibu dan para pamanya.

Memperoleh ilmu dasar fiqih di usia muda dari beberapa ulama Jawa, dan beliau juga menghafal Al Qur’an. Kemudian ayah beliau, Al Allamah Al Faqih Syeikh Abdullah At Tarmusi memanggilnya untuk belajar di Makkah. Pada tahun 1291 beliau berangkat menemui sang ayah dan bermukim di Makkah untuk membaca beberapa kitab di hadapan beliau. Kemudian Syeikh Mahfudz kembali ke Jawa dan berguru kepada Al Allamah Syeikh Shalih bin Umar As Samarani (Semarang), juga untuk membaca beberapa kitab.

Kemudian,Syeikh Mahfudz melakukan rihlah thalab al ilmi untuk kedua kalinya ke Makkah dan mengambil berbagai disiplin ilmu dari para ulama besarnya. Diantara para guru Syeikh Mahfudz adalah Al Allamah As Sayyid Abi Bakr bin Muhammad Syatha Al Makki, yang merupakan pijakan Syeikh Mahfudz dalam periwayatan hadits. Syeikh Mahfudz juga menyimak banyak kitab hadits dan musthalah-nya dari Al Allamah Al Muhaddits As Sayyid Husain bin Muhammad Al Habsyi Al Makki yang dikenal sebagai “Ibnu Mufti” (Anak Mufti). Beliau juga banyak membaca kitab hadits dan ilmunya di hadapan Al Allamah Syeikh As Syafi’iyah Makkah Syeikh Muhammad Sa’id Ba Bashil. Beliau juga memperoleh ilmu qira’at 14 dari Al Allamah Syeikh Muhammad As Syarbini Ad Dimyathi.

Dalam menuntut ilmu, beliau benar-benar bermujahadah dengan terjaga di malam hari, hingga terlihat kelebihan beliau dalam hadits dan ilmu-ilmunya, juga menguasai fiqih dan ushulnya, serta ilmu qira’at. Sehingga para guru beliau memberikan izin untuk mengajar. Syeikh Mahfudz mengajar di Bab As Shafa Masjid Al Haram dan di rumah tempat beliau tinggal.

Dari beliau, keluar para ulama baik, yang berasal dari tanah Jawa maupun Arab. Mereka adalah Kyiai Raden Dahlan As Samarani (Semarang), Kyiai Muhammad Dimyathi At Tarmusi (Termas), Kyiai Khalil Al Lasimi (Lasem), Kyiai Muhammad Hasyim bin Asy’ari Al Jumbani (Jombang), Kyiai Muhammad Faqih bin Abdi Al Jabbar Al Maskumbani (Maskumambang), Kyiai Baidhawi, Kyiai Abdu Al Muhaimin putra Abdul Aziz Al Lasimi, Kyiai Nawawi Al Fasuruwani (Pasuruan), Kyai Abbas Buntet As Syirbuni (Cirebon), Kyiai Abdul Muhith bin Ya’kub As Sidarjawi As Surabawi (Sidoarjo-Surabaya). Yang juga meriayatkan dari Syeikh Mahfudz adalah As Syeikh Muhammad Al Baqir bin Nur Al Jukjawi (Jogja), Kyiai Ma’shum bin Ahmad Al Lasimi (Lasem), Kyiai Shiddiq bin Abdillah Al Lasimi (Lasem), Kyiai Abdul Wahhab bin Hasbullah Al Jumbani (Jombang).

Sedangkan para ulama Arab dan lainnya yang mengambil periwayatan dari Syeikh Mahfudz adalah Al Muhaddits Syeikh Habibullah As Syanqithi, Muhaddits Al Harmain As Syeikh Hamdan, Syeikh Ahmad Al Mukhalilati, Syeikh Umar bin Abi Bakr Ba Junaid Al Makki, Syeikh Muhammad Abdul Baqi Al Ayubi Al Laknawi.
Beliau mengajar dengan menggunakan bahasa Arab fuskha (fasih) sebagai pengantar, walau terkadang beliau campur dengan bahasa Jawa. Karya-karya beliau antara lain, Al Manhaj Dzawi An Nadhr fi Syarh Alfiyah Al Atsar, Al Mauhibah Dzi Al Fadhl fi Hasyiyah Muqaddimah Ba Fadhal (4 jilid), Nail Al Ma’mul Hasyiyah Ghayah Al Wushul ala Lubb Al Ushul (3 jilid), Is’af Al Mathali’ bi Syarh Al Badr Al Lami’ Nadzmi Jam'i Al Jawami’ (2 jilid)Hasiyah Takammulah Al Minhaj Al Qawim (1 jilid), Ghunyah At Thalabah bi Syarh At Thayyibah fi Al Qaira’at Al Asyrah (1 jilid), Kifayah Al Mustafid li Ma Ala Asanid, yang berisi periwayatan Syeikh Mahfudz dalam semua disiplin ilmu dan lainnya.

Kelebihan beliau dikenal di berbagai kalangan, dari ketawadhu’an hingga kebaikan akhlak. Beliau juga tidak terlibat hal-hal yang tidak berguna. Datang dari Jawa ke Tanah Suci dengan perbekalan seadanya. Beliau juga dikenal sebagai alim yang wara’. Rumah beliau banyak didatangi para pencari ilmu, baik untuk sekedar mengucap salam maupun untuk mencari ilmu.
Beliau wafat di Makkah di tanggal 1 Rajab, sesaat sebelum adzan Maghrib hati Ahad, malam Senin tahun 1336 H. Jenazah beliau diantar banyak orang, dan dimakamkan di pemakaman Al Ma’la. Beliau meninggalkan satu anak, yakni Kyiai Muhammad bin Mahfudz. Semoga Allah merahmati beliau.
_____________________________________
Tulisan ini disadur dari "Kifayah Al Mustafid li Ma ‘Ala min Al Asanid", karya Al Muhaddist Al Musnid Al Faqih As Syeikh Muhammad Mahfudz bin Abdillah At Tarmusi Al Jawi Al Indunisi, terbitan Dar Al Basyair. http://www.hidayatullah.com/read/17127/20/05/2011/syeikh-at-tarmusi:-penyambung-sanad-ulama-nusantara-[1].html

Selasa, 8 Oktober 2013

KURBAN BANTENG, KIJANG, KUDA DAN JAGO



KURBAN BANTENG, KIJANG, KUDA DAN JAGO

            Yang melatar belakangi kajian ini tidak lain adalah karena sebelumnya penulis bertemu dengan sahabat-sahabat yang menanyakan tentang bolehkah berkurban dengan menyembelih hewan apapun yang halal dimakan selain tiga hewan kurban yang sudah menjadi ketetapan syara’ (unta, sapi, dan kambing).
            Sadar akan kemampuan dan kelemahan penulis dalam memahami fiqh, terkhusus pada kajian ini, penulis kemudian mencoba mencari dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, dan refrensi kitab klasik. Dan berikut ini uraiannya : 
            Hewan yang boleh dikurbankan adalah unta,sapi dan kambing atau dari jenis ketiganya. Selain ketiga hewan tersebut maka tidak di benarkan, hal ini telah  menjadi ijma’ ulama (kesepakatan ulama). Namun demikian, bukan berarti tidak ada penjelasan yang menuturkan tentang bolehnya berkurban dengan selain unta,sapi dan kambing.
            Menurut Ibnu al-Mundzir, terdapat  riwayat dari Hasan bin Shalih yang menyatakan bahwa,”Boleh berkurban dengan sapi liar (banteng) untuk tujuh orang, dan kijang untuk satu orang”. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh  Abu Dawud al-Dzahiri.
            Terdapat pula penjelasan tentang berkurbannya Nabi Muhammad Saw, dengan menyembelih kuda, sebagaimana yang di riwayatkan dari Asma’ ra, ia berkata,
ضحينا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بالخيل
 Aku pernah berkurban bersama Rasulullah Saw, dengan menyembelih kuda.
            Ketika hari raya idul adhha, Ibnu Abbas juga pernah berkurban dengan daging yang beliau beli dengan dua dirham.  Riwayat lain dari Abu Hurairah juga menyebutkan bahwa, “Nabi Muhammad Saw, pernah berkurban dengan menyembelih kuda”.
         Adalah al-hafidz pada masanya, Ibnu Hajar al-Asqalani (w.852 H) ketika mengomentari permasalahan ini, beliau menyatakan bahwa berkurban itu bersifat ta’abbudi maka hendaknya kembalikan pada al-ashlu atau pokok syari’at  yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Pernyataan senada juga di kemukakan oleh Ibnu Hajar al-Haitami (w.973 H) beliau berargumen bahwa tidak di perbolehkannya berkurban dengan selain ketiga hewan tersebut adalah karena alasan itba’, seperti halnya zakat.[1]
            Mengenai permasalahan ini, Ibn Abbas ra sendiri telah meriwayatkan  bahwa, berkurban itu di cukupkan dengan mengalirkan darah meskipun hanya berupa ayam (jago) atau angsa.  Oleh sebab itu Syeikh Muhammad al-Fadhali memerintahkan kepada orang-orang yang tidak mampu untuk bertaqlid kepada pendapatnya Ibnu Abbas ra. Demikian juga dengan aqiqah, jadi bagi orang yang tidak mampu untuk membeli kambing, maka diperbolehkan mengaqiqahi anaknya dengan menyembelih ayam (jago) dengan berpegang pada madzhabnya Ibnu Abbas.
            Tidak dibolehkan berkurban dengan selain unta,sapi dan kambing, juga berlaku untuk hewan yang di lahirkan dari percampuran antara ketiganya dengan hewan yang lain. Namun jika percampuran tersebut terjadi  antara ketiganya  (unta,sapi dan kambing), maka tetap  diperbolehkan, akan tetapi hanya untuk satu orang, walaupun berbentuk sapi atau unta.[2]


DAFTAR PUSTAKA
Al-Nawawi, Yahya bin Syaraf al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab , Beirut: Dar al-Fikr,1997.
Al-Shan’ani, Subul as-Salam,  Mesir :Maktabah Mushtafa al-Babi al-Halabi, 1960.
Al-Baijuri, Ibrahim, Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Ibni Qasim al-Ghazi, Beirut:Dar al-Fikr,1994.
Al-Haitami, Ibn Hajar , Tuhfah al-Muhtaj,  Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah,[tth].

Al-Qurthubi, Tafsir al-Jami’ li ahkami al-Qur’an (Riradh: Dar ‘Alim al-Kutub,2003. 
Ba’asyan,Sa’id bin Muhammad, Busyra al-Karim, Indonesia:Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah,[tth].



[1] Ibn Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj,(Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah,tth),juz iv,hlm.254.
lihat pula, 105. Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab ,(Beirut: Dar al-Fikr,1997),juz viii,hlm.287. dalam kitab tersebut tertulis” ببقر الوحش عن سبعة (sapi liar/banteng untuk tujuh orang). Demikian pula dalam kitab tafsirnya al-Qurthubi,op.cit,juz 15,hlm.105.
وحكى ابن المنذر عن الحسن بن صالح أنه يجوز أن يضحي ببقر الوحش عن سبعة ، وبالضباع عن واحد

Al-Shan’ani, Subul al-Salam,  (Mesir :Maktabah Mushtafa al-Babi al-Halabi, 1960.juz iv,hlm.95. dalam kitab ini tertulis ببقرة الوحش عن عشرة(sapi liar/banteng untuk sepuluh orang).
إلا ما حكي عن الحسن بن صالح أنها تجوز التضحية ببقرة الوحش عن عشرة والظبي عن واحد وما روي عن أسماء أنها قالت ضحينا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم بالخيل وما روي عن أبي هريرة أنه ضحى بديك

Al-Shan’ani. juz iv,hlm.95, menyebutkan riwayat Abu Hurairah, yang menerangkan berkurban ayam(jago) . ضحى بديك,
Pada hlm.92, menyebutkan  riwayat Hilal, juga berkurban dengan ayam (jago).
روى أن بلالا ضحى بديك ومثله روى عن أبي هريرة

Sementara, Sa’id bin Muhammad Ba’asyan, Busyra al-Karim, (Indonesia:Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah,tth),juz ii,hlm.125-126. Menyebutkan riwayat Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw berkurban dengan kuda. ضحى بخيل
عن اسماء قالت ضحينت على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم بالخيل و عن أبي هريرة أنه ضحى بخيل
[2] Ibrahim al-Baijuri, Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Ibni Qasim al-Ghazi,(Beirut:Dar al-Fikr,1994),juz ii,hlm.442.

Selasa, 1 Oktober 2013

Kontroversi Hukum Kurban



KONTROVERSI HUKUM KURBAN

            Berbicara mengenai hukum berkurban, maka tidak akan terlepas dari khilaf (perbedaan pendapat) di kalangan Imam Madzhab. Menurut Malik bin Anas (w.179 H) dan al-Syafi’i (w.204 H) bahwa hukum kurban merupakan sunnah mu’akkad, namun Malik bin Anas memberi keringanan (tidak sunnah untuk berkurban) bagi orang yang sedang menunaikan haji sewaktu di kota Mina, sementara al-Syafi’i sendiri tidak membedakan apakah ia berhaji atau tidak, atau dalam kondisi mukim ataupun ketika bepergian.[1]
            Hukum kurban adalah sunnah mu’akkad merupakan pendapat dari mayoritas ulama, di antaranya adalah seperti yang di jelaskan oleh Abu Bakar (w.11 H), Umar bin Khattab (w.23 H),  Bilal, Abu Mas’ud al-Badri, Sa’id bin Musayyab, Atha’ Alqamah, al-Aswad, Malik bin Anas (w.179 H), Ahmad bin Hanbal (w.241), Abu Yusuf, Ishaq bin Rahwabah (w.238), Abu Tsauri (w.161 H), al-Muzani, Daud bin Ali (w.270), Ibn al-Mundzir.
           Sementara itu menurut  Rabi’ah, al-Laits bin Sa’id (w.175 H)  dan al-Auza’i (w.157 H)  menyatakan  bahwa hukum   melaksanakan penyembelihan kurban adalah wajib bagi yang memiliki kemampuan, kecuali bagi mereka yang berhaji sewaktu di Mina. Sedangkan Muhammad bin Hasan menyatakan wajib bagi seorang bermukim di suatu daerah tertentu.
            Abu Hanifah (w.150 H) tokoh  pendiri madzhab Hanafi, berpendapat wajib hukumnya bagi orang yang mampu dan yang sudah bertempat tinggal (muqim) untuk melaksanakan kurban kecuali bagi orang yang dalam kondisi bepergian. Namun qaul yang masyhur menyatakan bahwa Abu Hanifah mewajibkan kurban bagi mereka yang mampu dan memiliki satu nishab.[2] Ternyata , hukum wajib berkurban sebagaimana pendapat Abu Hanifah itu di sangkal oleh kedua murid kesayangan beliau yakni, Abu Yusuf dan Muhammad. Mereka berdua tidak sependapat dengan Imam Abu Hanifah yang merupakan (gurunya).[3] Abu Yusuf berpendapat bahwa kurban hukumnya sunnah, at-Thahawi (w.231 H) juga menuturkan hukum sunnah dengan mengutip pendapat (qaul) Abu Yusuf dan Muhammad.[4]
            Arah pengambilan dalil atau wajhul istidlal dengan beberapa hadis inilah yang kemudian di tengarai munculnya perbedaan pandangan, hal  ini  dapat   di  buktikan dengan    beberapa   indikator    yang menjadi argumen atas perbedaan tersebut.  Berikut ini penulis tampilkan dalam kajian ini :
            Pertama, ulama yang menganggapnya wajib berhujjah dengan kebiasaan yang senantiasa dilakukan Nabi Muhammad Saw, bahwa beliau selalu menyembelih hewan kurban, hal ini kemudian diinterpretasikan sebagai sesuatu yang wajib dan merupakan ibadah yang tidak pernah ditinggalkan . Oleh sebab itu dalam diri Nabi Muhammad Saw terdapat suri tauladan yang seharusnya wajib di ikuti oleh setiap muslim, hal ini sesuai dengan firman Allah swt :
لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.(QS. al-Ahzab:21).[5]
            Selanjutnya Nabi Muhammad Saw, tidak pernah sama sekali meninggalkan ibadah kurban setiap masuk Idul Adhha, terbukti, terdapat riwayat yang menyatakan bahwa, sampai dalam kondisi bepergian pun Nabi Saw, senantiasa berkurban.
            Diriwayatkan oleh Muslim dari Tsauban, ia berkata :
ذبح رسول الله صلى الله عليه وسلم أضحيته ثم قال: "يا ثوبان أصلح لحم هذه الضحية" قال: فلم أزل أطعمه منها حتى قدم المدينة                                    
Rasulullah saw, menyembelih kurbannya,kemudian beliau berkata :”Wahai Tsauban perbaikilah daging kurban ini !” Tsauban berkata : “saya tidak berhenti untuk memakannya sampai tiba di kota Madinah”.[6]
            Kedua, hadis dari Mikhnaf bin Sulaim, ia berkata,
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ونحن وقوف معه بعرفات يا أيها الناس إن على كل أهل بيت في كل عام أضحية وعتيرة أتدرون ما العتيرة هذه التي يقول الناس الرجيبة.  
Kami sedang wukuf di Arafah bersama Rasulullah saw, Beliau bersabda :Wahai sekalian manusia, sesungguhnya bagi setiap ahlu bait (keluarga) dalam setiap tahun wajib berkurban dan harus menyembelih (‘atirah). Tahukah kalian semua apa itu ‘atirah ? yaitu penyembelihan binatang yang oleh orang-orang disebut  Rajabiyah.
            Hadis dari Mikhnaf itu menyebutkan tentang  ‘atirah (penyembelihan untuk bulan Rajab) . Sementara itu, bagi ulama yang mewajibkan kurban berdalil bahwa ‘atirah telah di hapus, namun dihapusnya ‘athirah tidak memastikan dihapusnya udhhiyyah (berkurban). Terbukti, hadis dari Abi Hurairah, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda:
لا فرع ولا عتيرة
Tidak ada penyembelihan untuk mencari barakah dan tidak ada penyembelihan untuk bulan Rajab.(HR.Tirmidzi).
            Hadis mikhnaf bin Sulaim adalah marfu’ , maka atas setiap keluarga berkewajiban untuk berkurban pada setiap tahun (Idul Adhha). Hal ini menjadikan kurban tersebut hukumnya wajib seperti pendapat yang di nyatakan oleh Imam Abu Hanifah.
            Sementara itu, hadis Mikhnaf juga di riwayatkan oleh Abu Daud, Al-Tirmidzi, al-Nasa’i, dan lainnya. Disisi lain, al-Tirmidzi berkomentar bahwa hadis tersebut derajatnya hasan, sedangkan menurut catatan al-Khathabi, hadis tersebut dha’if, dengan alasan perawi yang bernama Abu Ramlah majhul.[7]
            Ketiga, hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Jundub bin Abdullah bin Sufyan al-Jabili ra, ia berkata : Saya menyaksikan Rasulullah Saw, melakukan shalat di hari Idul Adhha, kemudian beliau berkhutbah dan bersabda :
من كان ذبح قبل أن يصلي، فليعد مكانها. ومن لم يكن ذبح، فليذبح باسم الله
Barangsiapa yang menyembelih (kurban) sebelum shalat, maka hendaklah ia mengulangi sebagai gantinya, dan barangsiapa yang belum menyembelih (kurban) maka berkurbanlah dengan menyebut asma Allah.
            Menurut mereka yang berpendapat wajib, maka hadis tersebut menjadi dasar atas wajibnya berkurban, apalagi disertai dengan kata فليعد مكانها yakni perintah untuk mengulangi berkurban jika dilakukan sebelum shalat (Idul Adhha). 
            Hal ini jelas berbeda dengan ulama yang berpendapat sunnah, mereka beralasan bahwa, kurban yang pertama  tidak sah,  maka konsekwensinya   perintah    mengulangi,  dan    menjadi  isyarat   bahwa melaksanakan kurban sebelum shalat tidak dianggap kurban yang benar.[8] (baca, waktu berkurban).
            Keempat, hadis dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda,
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ, فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
Barangsiapa mempunyai kemampuan, namun ia tidak mau berkurban, maka janganlah ia sekali-kali mendekat ke mushalla kami.
            Hadis tersebut di riwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah. Hakim menyebut hadisnya shahih. Sementara al-Baihaqi, Abu Dawud, al-Nasa’i berpendapat dha’if. Ibnu Yunus berkomentar hadis tersebut meupakan munkar al-hadis (hadis yang munkar), sedangkan al-Tirmidzi menyatakan hadis tersebut tidak dinisbatkan pada Nabi Muhammad Saw, melainkan mauquf pada Abi Hurairah. Sebagian periwayat yang lain menyatakan tidak di temukan hujjah untuk menyatakan bahwa hadis tersebut adalah mauquf.
            Riwayat  hadis tersebut sebenarnya tidak ada ketegasan bahwa hukum kurban adalah wajib, jadi sifatnya adalah anjuran , akan tetapi walaupun anjuran namun harus tetap di perhatikan bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk berkurban.
            Bagi ulama yang kokoh memegang pendiriannya dengan menetapkan hukum wajib berkurban, tentu persepsinya lain, hal ini perlu kita fahami. Mereka berargumen bahwa arah pengambilan dalil hadis tersebut adalah ketika Rasulullah saw, melarang orang yang mampu berkurban untuk mendekat ke mushallanya jika ia tidak mau berkurban, hal ini dapat di tarik kesimpulan bahwa ia meninggalkan suatu kewajiban, maka seolah-olah sama sekali tidak ada faidahnya bagi seorang muslim yang mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan mengerjakan shalat, namun tidak melaksanakan kurban.Secara keseluruhan, bahwa mayoritas ulama dari sahabat, tabi’in dan fuqaha menyatakan hukum sunnah. Sedangkan golongan yang mewajibkannya tidak memiliki dalil atau dasar yang shahih dan sharih (jelas).[9]
            Kelima, al-Syafi’i dan ashhabuna (murid-murid al-Syafi’i) menetapkan hukum sunnah adalah berpijak pada sebuah hadis riwayat Umu Salamah, bahwa Nabi Muhammad telah bersabda :
إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضحي فليمسك عن شعره وأظفاره
jika kalian telah melihat hilal bulan Dzul Hijjah, dan hendaknya salah seorang dari kalian berkurban maka lakukanlah manasik dengan memotong rambut dan kukunya.(HR.Muslim).            
            Dalam pandangan al-Syafi’i, hadis di atas, memberikan pemahaman bahwa “ketika bulan Dzul Hijjah sudah terlihat” , Menurutnya, sekira kurban itu adalah wajib tentu tidak di diserahkan kepada keinginan (ta’liq bi iradah). Maka seharusnya Nabi Muhammad Saw akan mengatakan :
فلا يمس من شعره حتى يضحي
Maka janganlah lakukan manasik dengan memotong rambut sampai ia berkurban.
            Selanjutnya, Abu Hanifah berpendapat wajib hukumnya bagi  orang  yang mampu   dan   yang  muqim  (bertempat tinggal)   untuk melaksanakan kurban kecuali bagi orang yang dalam kondisi musafir (orang yang bepergian).
            Sedangkan menurut al-Syafi’i, jika menjadi wajib bagi orang muqim (bertempat tinggal), tentu wajib pula bagi orang yang dalam kondisi bepergian, seperti halnya dengan kewajiban menunaikan zakat dan zakat fitrah, karena keduanya tidak ada perbedaan yakni sama-sama ibadah maliyah (ibadah dalam bentuk harta benda).
            Mengenai musafir, Abu Hanifah memberikan penegasannya bahwa, berkurban tidaklah wajib bagi musafir ,karena hukum dengan status ada-an akan terhenti jika muncul faktor yang memberatkan bagi musafir, dan karena juga di batasi oleh usainya waktu. Oleh sebab itu pula, maka berkurban tidaklah wajib bagi musafir seperti halnya tidak di wajibkannya melakukan shalat jum’at ketika dalam kondisi perjalanan.
            Di sisi lain, para ulama Syafi’iyyah berpendapat jika berkurban adalah wajib dan kemudian menjadi tidak wajib bagi musafir seperti shalat jum’at, maka tentunya kewajiban itu tidak dapat menggugurkannya sebagai gantinya. Namun bagi mereka yang mewajibkan kurban,  memiliki argumen yang berbeda.  Menurutnya , jika kewajiban kurban sudah gugur maka tidak perlu lagi untuk mengqadha’inya.[10]   
    
DAFTAR PUSTAKA

Al-Asqalani, Ibnu Hajar, Bulugh al-Maram,  Semarang: Maktabah Toha Putra,[tth].
Al-Hanafi, Ibnu Nujaim, al-Bahr ar-Raiq Syarh Kanzu al-Daqaiq, Beirut: Dar al-Ihya al-Tsuras al-Arabi,2002.
Al-Nawawi, Yahya bin Syaraf al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab , Beirut: Dar al-Fikr,1997.
Al-Naisapuri, Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim,  [Maktabah Syamilah].
Al-Shan’ani, Subul as-Salam,  Mesir :Maktabah Mushtafa al-Babi al-Halabi, 1960.
Al-Tirmidzi, Abu ‘Isa Muhammad Sunan al-Tirmidzi,  [Maktabah Syamilah].
Ibn Majah, Abu Abdillah bin Yazid Sunan Ibn Majah,  Riyadh: Maktabah al-Ma’arif  li al-Nasyr wa al-Tauzi’ 1997.
RI, Departemen Agama ,Al-Qur’an dan Terjemahannya, Surabaya: Mekar,2004.
Rusydi, Ibnu, Bidayah al-Mujtahid ,Mesir: Maktabah Mushtafa al-Babi al-Halabi, 1975.



[1] Ibnu Rusydi, Bidayah al-Mujtahid (Mesir: Maktabah Mushtafa al-Babi al-Halabi, 1975),juz 1,hlm.429.
[2] Al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab ,(Beirut: Dar al-Fikr,1997),juz viii,hlm..277.
[3] Ibnu Rusydi, loc.cit.
[4] Ibnu Nujaim al-Hanafi ,al-Bahr ar-Raiq Syarh Kanzu al-Daqaiq (Beirut: Dar al-Ihya al-Tsuras al-Arabi,2002),juz viii,hlm.345.
[5]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Surabaya: Mekar,2004),hlm.591.
[6] Ibnu Rusydi,loc.cit. lihat pula, Shahih Muslim, hadis no :1975.
1975) حدثني زهير بن حرب. حدثنا معن بن عيسى. حدثنا معاوية بن صالح عن أبي الزاهرية، عن جبير بن نفير، عن ثوبان. قال: ذبح رسول الله صلى الله عليه وسلم ضحيته ثم قال (يا ثوبان! أصلح لحم هذه) فلم أزل أطعمه منها حتى قدم المدينة.
[7] Al-Nawawi, op.cit.,juz viii,hlm.278.
lihat pula,Sunan al-Tirmidzi, hadis no :1518 dan no: 1512.
[ 1518 ] حدثنا أحمد بن منيع حدثنا روح بن عبادة حدثنا بن عون حدثنا أبو رملة عن محنف بن سليم قال كنا وقوفا مع النبي صلى الله عليه وسلم بعرفات فسمعته يقول يا أيها الناس على كل أهل بيت في كل عام أضحية وعتيرة هل تدرون ما العتيرة هي التي تسمونها الرجبية قال أبو عيسى هذا حديث حسن غريب ولا نعرف هذا الحديث إلا من هذا الوجه من حديث بن عون
[ 1512 ] حدثنا محمود بن غيلان حدثنا عبد الرزاق أخبرنا معمر عن الزهري عن بن المسيب عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا فرع ولا عتيرة      
Sunan Ibn Majah, hadis no:3125.
3125- حدّثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ. حدّثنا مُعَاذُ بْنُ مُعَاذٍ عَنِ ابْنِ عَوْنٍ. قَالَ: أَنْبَأَنَا أَبُو رَمْلَةَ عَنْ مِخْنَفِ بْنِ سُلَيْمٍ، قَالَ: كُنَّا وُقُوفاً عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم بِعَرَفَةَ فَقَالَ ((يَا أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ، فِي كمُلِّ عَامٍ، أُضَّحِيَّةٍ وَعَتِيرَةً)). أَتَدْرُونَ مَا الْعَتِيرَةُ؟ هِيَ الَّتِي يُسَمِّيهَا النَّاسُ الرَّجَبِيَّةَ.

[8] Al-Nawawi, loc.cit.  lihat pula, Al-Shan’ani, Subul al-Salam,  (Mesir :Maktabah Mushtafa al-Babi al-Halabi, 1960.juz iv,hlm.91.
Shahih Muslim, hadis no: 1960.
1960) حدثنا عبيدالله بن معاذ. حدثنا أبي. حدثنا شعبة عن الأسود، سمع جندبا البجلي قال: شهدت رسول الله صلى الله عليه وسلم صلى يوم أضحى. ثم خطب، فقال (من كان ذبح قبل أن يصلي، فليعد مكانها. ومن لم يكن ذبح، فليذبح باسم الله).


[9] Lihat,Sunan Ibnu Majah,hadis no::3123
3123- حدّثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ. حدّثنا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ. حدّثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ، وَلَمْ يُضَحِّ، فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصلانَا.
في الزوائد: في إسناده عَبْدُ الله بْنُ عياش وهو، وإن روى له مسلم، فإنما أخرج له في المتابعات والشواهد. وقد ضعّفه أبو داود والنسائيّ. وقال أبو حاتم: صدوق. وقال ابْنِ يونس: منكر الحديث. وذكره ابْنِ حبان في الثقات.
Ibn Hajar al-Asqalani, Bulugh alMaram, (Semarang: Maktabah Toha Putra,tth).hlm.281.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - - "مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ, فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا" - رَوَاهُ أَحْمَدُ, وَابْنُ مَاجَه, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ, لَكِنْ رَجَّحَ اَلْأَئِمَّةُ غَيْرُهُ وَقْفَه
Al-Nawawi,loc.cit, lihat pula, al-Shan’ani, loc.cit.

[10] Al-Nawawi,op.cit,juz viii,hlm.278-279. Lihat pula, Ibnu Nujaim al-Hanafi ,loc.cit.  Ibnu Rusydi, loc.cit.
Lihat pula, Shahih Muslim, hadis no:1977,   hadis dengan memakai lafadz yang berbeda namun maknanya hampir senada.
(1977) حدثنا ابن أبي عمر المكي. حدثنا سفيان بن عبدالرحمن ابن حميد بن عبدالرحمن ابن عوف. سمع سعيد بن المسيب يحدث عن أم سلمة؛
 أن النبي صلى الله عليه وسلم قال إذا دخلت العشر، وأراد أحدكم أن يضحي، فلا يمس من شعره وبشره شيئا.
قيل لسفيان: فإن بعضهم لا يرفعه. قال: لكني أرفعه.
 (1977) وحدثناه إسحاق بن إبراهيم. أخبرنا سفيان. حدثني عبدالرحمن بن حميد بن عبدالرحمن بن عوف عن سعيد بن المسيب، عن أم سلمة ترفعه.
 قال: إذا دخل العشر، وعنده أضحية، يريد أن يضحي، فلا يأخذن شعرا ولا  يقلمن ظفرا.
(1977) وحدثني حجاج بن الشاعر. حدثني يحيى بن كثير العنبري، أبو غسان. حدثنا شعبة عن مالك بن أنس، عن عمر بن مسلم، عن سعيد بن المسيب، عن أم سلمة؛
 أن النبي صلى الله عليه وسلم قال إذا رأيتم هلال ذي الحجة، وأراد أحدكم أن يضحي، فليمسك عن شعره وأظفاره.
(1977) - وحدثنا أحمد بن عبدالله بن الحكم الهاشمي. حدثنا محمد بن جعفر. حدثنا شعبة عن مالك ابن أنس، عن عمر أو عمرو بن مسلم، بهذا الإسناد، نحوه.
(1977) وحدثني عبيدالله بن معاذ العنبري. حدثنا أبي. حدثنا محمد بن عمرو الليثي عن عمر ابن مسلم بن عمار بن أكيمة الليثي، قال: سمعت سعيد بن المسيب يقول: سمعت أم سلمة، زوج النبي صلى الله عليه وسلم تقول:
 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كان له ذبح يذبحه، فإذا أهل هلال ذي الحجة، فلا يأخذن من شعره ولا  من أظفاره شيئا، حتى يضحي.
(1977) - حدثني الحسن بن علي الحلواني. حدثنا أبو أسامة. حدثني محمد بن عمرو. حدثنا عمرو بن مسلم بن عمار الليثي. قال:
 كنا في الحمام قبيل الأضحى. فاطلى فيه ناس. فقال بعض أهل الحمام: إن سعيد بن المسيب يكره هذا، أو ينهى عنه. فلقيت سعيد بن المسيب فذكرت ذلك له. فقال: يا ابن أخي! هذا حديث قد نسي وترك. حدثتني أم سلمة، زوج النبي صلى الله عليه وسلم، قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم. بمعنى حديث معاذ عن محمد بن عمرو.
2 م - (1977) وحدثني حرملة بن يحيى وأحمد بن عبدالرحمن بن أخي ابن وهب قالا: حدثنا عبدالله بن وهب. أخبرني حيوة. أخبرني خالد بن يزيد عن سعيد بن أبي هلال، عن عمر بن مسلم الجندعي؛ أن ابن المسيب أخبره؛ أن أم سلمة، زوج النبي صلى الله عليه وسلم أخبرته. وذكر النبي صلى الله عليه وسلم. بمعنى حديثهم.