Isnin, 15 Julai 2013

Sandal Imam Abu Hanifah Terkena Najis



Dalam kitab Tarikh al-Islam karya adz-Dzahabi di tuturkan :
Diriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah, beliau mempunyai uang yang di pinjam oleh orang majusi, beliau mendatanginya untuk menagih uang tersebut, ketika sampai di depan pintu rumah orang majusi tersebut, sandal beliau terkena najis , kemudian  Imam Abu Hanifah menggerakkan sandalnya untuk menghilangkan najis itu. Tapi ternyata, najis itu malah terlempar ke tembok rumah Majusi  tersebut.  
Imam Abu Hanifah berdiri dan berkata dalam hati ," apa yang harus saya lakukan, jika saya membiarkan, maka tembok rumah majusi ini akan kotor, tetapi jika saya menggosoknya maka najis tersebut malah akan tercecer, bagaimana ini?.
Imam Abu Hanifah mempunyai ide, ia mengetuk pintu rumah, seketika pembantu perempuan majusi itu keluar,
Kemudian Imam Abu hanifah berkata kepadanya,"katakan kepada tuanmu bahwa Imam Abu Hanifah di depan pintu".
beberapa saat kemudian keluarlah majusi itu dan mengira bahwa Abu Hanifah akan menagih hutangnya, dia meminta maaf karena belum bisa membayar.
Imam Abu Hanifah berkata kepadanya,"sesungguhnya saya kesini karena ada urusan lain yang lebih penting dari pada urusan hutang".
Abu Hanifah menceritakan tentang tembok tersebut, lantas bagaimana  cara membersihkanya?
Majusi berkata :"saya yang akan membersihkan diri terlebih dahulu, saya bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah"
Majusi itu masuk islam saat itu juga.

روى ان ابا حنيفة رضى الله عنه كان له على بعض المجوسى مال فذهب الى داره ليطالبه به فلما وصل فى باب داره وقع على نعله نجاسة فنفض نعله فارتفعت النجاسة عن نعله ووقعت على حائط دار المجوسى فتحير ابو حنيفة وقال إن تركتها كان ذلك سببا لقبح لقبح جدار المجوسى وإن حككتها انحذر التراب من الحائط فذق الباب فخرجت الجارية فقال لها قولى لمولاك ان ابا حنيفة بالباب فخرج اليه وظن انه يطالبه بالمال فاخذ يعتذر فقال ابو حنيفة رضي الله عنه ههنا ما هو اولى وذكر قصة الجدار وانه كيف السبيل الى تطهيره فقال المجوسى فانا ابدأ بتطهير نفسى فأسلم فى الحال

Khamis, 11 Julai 2013

Tarawih Patas

Bagaimana pelaksanaan shalat tarawih di daerah anda ?
cepat laksana patas atau alon-alon asal kelakon laksana naik becak ? hemmm, andalah yang tahu...!!
Abu Bakar Muhammad Syatha, dalam kitabnya menyampaikan bahwa :
Quthbu al-Irsyad Sayyidina Abdullah bin Alwi al-Haddad, mengatakan di dalam kitab al-Nashaa’ih_nya :
"Hindarilah pelaksanaan shalat dengan amat cepat seperti yang biasa dilakukan kebanyakan orang yang bodoh dalam melakukan shalat tarawih, yang karena sangat cepatnya mungkin mereka melewatkan sebagian rukun, seperti tanpa thuma’ninah di dalam ruku’ dan sujud, atau membaca surat al-Fatihah tidak dengan sebenarnya karena tergesah-gesa, sehingga shalat salah seorang di antara mereka tidak dinilai oleh Allah Swt. Sebagai shalat yang berpahala, tetapi mereka tidak dianggap meninggalkan shalat. Orang tersebut salam (menutup shalat) dengan bangga (karena bisa melaksanakannya secara cepat). Hal itu dan sejenisnya termasuk tipu daya syetan yang paling besar kepada orang yang beriman untuk merusak amal ibadah yang ia kerjakan. Karena itu, berhati-hatilah dan waspadalah wahai saudara-saudaraku.
Apabila anda melaksanakan shalat tarawih dan shalat yang lain maka sempurnakanlah berdirinya, bacaan fatihahnya, ruku’nya, sujudnya, khusu’nya, hudhur-nya, rukun-rukunnya dan adabnya. Janganlah anda menjadikan setan sebagai penguasa diri anda, karena setan tidak mampu mengusai orang-orang yang beriman yang bertawakkal kepada Allah Swt., maka beradalah di dalam kelompok mereka, karena setan itu mampu menguasai orang-orang yang menolongnya dan orang-orang yang menyekutukan Allah Swt. Janganlah anda termasuk orang-orang ini".

[Abu Bakar Muhammad Syatha,  I’anah at-Thalibin, (Beirut: Dar al-Fikr,1993),juz i,hlm.306-307].

قاَلَ قُطْبُ اْلإِرْشَادِ سَيِّدُنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عَلْوِي اْلحَدَّادُ فيِ النَّصَائِحِ وَلْيَحْذَرْ مِنَ التَّخْفِيْفِ اْلمُفْرِطِ الَّذِيْ يَعْتَادُهُ كَثِيرٌ مِنَ اْلجَهَلَةِ فيِ صَلاَِتهِمْ لِلتَّرَاوِيْحِ حَتىَّ رُبمَّاَ يَقَعُوْنَ بِسَبَبِهِ فيِ اْلإِخْلاَلِ بِشَيْءٍ مِنَ اْلوَاجِبَاتِ مِثْلِ تَرْكِ الطُّمَأْنِيْنَةِ فيِ الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ وَتَرْكِ قِرَاءَةِ اْلفَاتِحَةِ عَلىَ الْْوَجْهِ الًّذِيْ لاَ بُدَّ مِنْهُ بِسَبَبِ اْلعَجَلَةِ فَيَصِيْرُ أَحَدُهُمْ عِنْدَ اللهِ لاَ هُوَ صَلَّى فَفَازَ بِالثَّوَابِ وَلاَ هُوَ تَرَكَ فَاعْتَرَفَ بِالتَّقْصِيرْ ِوَسَلَّمَ مِنَ اْلإِعْجَابِ وَهَذِهِ وَمَا أَشْبَهَهَا مِنْ أَعْظَمِ مَكَايِدِ الشَّيْطَانِ ِلأَهْلِ اْلإِيمْاَنِ يُبْطِلُ عَمَلَ اْلعَامِلِ مِنْهُمْ عَمِلَهُ مَعَ فِعْلِهِ لِلْعَمَلِ فَاحْذَرُوْا مِنْ ذَلِكَ وََتنَبَّهُوْا لَهُ مَعَاشِرَ اْلإِخْوَانِ وَإِذَا صَلَّيْتُمْ التَّرَوِايْحَ وَغَيْرَهَا مِنَ الصَّلَوَاتِ فَأَتمُِّوْا اْلقِيَامَ وَاْلقِرَاءَةَ وَالرُّكُوْعَ وَالسُّجُوْدَ وَاْلخُشُوْعَ وَاْلحُضُوْرَ وَسَائِرَ اْلأَرْكَانِ وَاْلآدَابِ وَلاَ تَجْعَلُوْا لِلشَّيْطَانِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا فَإِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانُ عَلَى اَّلذِيْنَ آمَنُوْا وَعَلَى رَبهِِّمْ يَتَوَكَّلُوْنَ فَكُوْنُوْا مِنْهُمْ إِنمَّاَ سُلْطَانُهُ عَلَى اَّلذِيْنَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُوْنَ فَلاَ تَكُوْنُوْا مِنْهُمْ اهـ

Pengertian Zakat Fitrah dan Dasar Hukum



احكام زكاة الفطر فى مذهب الشافعى
Hukum-Hukum Zakat Fitrah Dalam Madzhab Syafi’i


Pengertian Dan Dasar Hukum
            Zakat secara bahasa adalah bertambah  atau meningkat (an-Namaa), dan juga dapat di artikan berkah (barakah), banyak kebaikan (katsir al-khair), dan mensucikan (tathhir). Sedangkan zakat secara syara’ adalah nama harta tertentu ,di keluarkan dari harta yang tertentu, dengan cara-cara tertentu dan di berikan kepada golongan yang tertentu pula.[1]  Adapun makna Fitrah adalah merujuk pada keadaan manusia saat baru di ciptakan atau khilqah. Allah SWT berfirman :
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفاً فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
Artinya:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah Menciptakan manusia menurut (fitrah) itu.(Q.S.ar-Rum:30).[2]
Selanjutnya zakat fitrah juga dapat di sebut zakat puasa atau zakat yang sebab diwajibkanya adalah futhur (berbuka puasa) pada bulan Ramadhan.Dan juga bisa di sebut zakat badan karena berfungsi untuk mensucikan diri. Dalam istilah ahli fiqih (fuqaha), zakat fitrah adalah zakat diri yang di wajibkan atas setiap individu muslim yang mampu dengan syarat-syarat yang telah di tetapkan.
Menurut Waqi’ bin Jarah,  zakat fitrah bagi puasa bulan ramadhan adalah seperti  sujud sahwi terhadap shalat. pengertiannya adalah  zakat fitrah dapat  menambal kekurangan puasa sebagaimana sujud sahwi menambal kekurangan  shalat. Perkataan ini di perkuat dengan sabda Nabi Muhammad  SAW, yang mengatakan bahwa “zakat fitrah dapat membersihkan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan keji”. [3]Demikian pula dengan hadis Nabi Muhammad SAW, yang menyatakan bahwa “puasa Ramadhan tergantung antara langit dan bumi dan tidak akan di angkat ke hadapan Allah kecuali dengan zakat fitrah”. Abu bakar Syata’ dalam kitabnya menjelaskan bahwa maksud dari “tidak di angkat adalah meupakan kinayah dari sempurnanya pahala puasa di bulan Ramadhan itu tergantung dari orang yang berpuasa, apakah ia mengeluarkan zakat fitrah atau tidak. Pengertiannya bukan berarti, tanpa zakat fitrah berarti puasanya tidak diterima. Jadi seandainya saja seseorang yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian tidak mengeluarkan zakat fitrah, maka puasanya tetap di terima oleh Allah SWT. [4]
Zakat mal (harta) pertama kali diwajibkan pada bulan sya’ban tahun kedua hijriah beserta di wajibkannya pula zakat fitrah, menurut pendapat yang masyhur kewajiban mengeluarkan zakat pertama kali di lakukan pada bulan syawal tahun ke dua hijriah, sedangkan zakat fitrah pada bulan syawal, yakni 2 hari menjelang hari raya idul fitri.[5]
Berikut ini adalah ayat al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW, yang menjadi sumber hukum kewajiban menunaikan zakat fitrah, di antaranya adalah:

وَاَقِيْمُوْ االصَّلَوةَ وَاَتُوْاالزَّ كَوْةَ, وَمَـاتُقَدّ ِمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍتَجِدُوْهُ عِنْدَاللهِ, اِنَّ اللهَ بِمَاتَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ  
Artinya :
Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan apa-apa yang kamu usahakan dari kebaikan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah:110).[6]

Hadis Nabi berkenaan dengan kewajiban zakat fitrah :
عن ابن عمر رضي الله عنهما قال فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر، صاعا من تمر أو صاعا من شعير، على العبد والحر، والذكر والأنثى، والصغير والكبير، من المسلمين، وأمر بها أن تؤدى قبل خروج الناس إلى الصلاة.(متفق عليه)
Artinya :
Dari Ibnu Umar, radhiyallahu ‘anhuma ia berkata: Rasulullah saw. telah mewajibkan mengeluarkan zakat fitrah satu sha’ kurma atau satu sha’ sya’ir atas hamba sahaya ataupun orang merdeka, laki-laki maupun perempuan, anak kecil atau dewasa, dari orang-orang (yang mengaku) Islam. Dan beliau menyuruh menyerahkan sebelum orang-orang keluar dari shalat Hari Raya Fitri.(muttafaqun ‘alaih).[7]


DAFTAR PUSTAKA
Al-Asqalani, Ibn Hajar, Bulughul Maram, Semarang: Maktabah Toha Putera,[tth].
Al- Sijitsani, Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, [Maktabah Syamilah].
Abu Bakar, Taqiyyudin, Kifayah al-Akhyar, Beirut: Dar al-Fikr, ,[tth].
Al-Baijuri, Ibrahim, Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Ibni Qasim al-Ghazi, Baerut: Dar al-Fikr, 1994.
Al-  Bukhari ,Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il, Shahih Bukhari, Semarang: Maktabah Toha Putera,[tth] / Maktabah Syamilah.
Al-Hadhrami, Sa’id bin Muhammad Ba’asyan, Busyra al-Karim, Indonesia: Dar al-Kutub al-Arabiyah,[tth].       
RI,Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Juz 1-30, Surabaya:Danakarya,2004.
Syatha, Abu Bakar, I’anah at-Thalibin,  Beirut: Dar al-Fikr,1993.
                                          


[1] Ibrahim al-Baijuri, Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Ibni Qasim al-Ghazi, (Baerut: Dar al-Fikr, 1994),hlm.386-387.
[2] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Juz 1-30, (Surabaya:Danakarya,2004)
[3] Lihat, Abu Dawud al-Sijitsani, Sunan Abu Dawud, (Maktabah Syamilah), hadis no:1609.
1609ـ حدثنا محمود بن خالد الدمشقي وعبد اللّه بن عبد الرحمن السمرقندي قالا: ثنا مروان، قال عبد اللّه: قال: ثنا أبو يزيد الخَوْلاني، وكان شيخ صدق، وكان عبد اللّه بن وهب يروي عنه، ثنا سيار بن عبد الرحمن، قال: محمود الصدفي عن عكرمة، عن ابن عباس قال:
فرض رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم زكاة الفطر طهرةً للصائم من اللغو والرَّفثِ وطعمةً للمساكين، من أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة، ومن أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات.
[4] Abu Bakar Syatha,  I’anah at-Thalibin, (Beirut: Dar al-Fikr,1993),juz ii,hlm.189-190. Lihat juga, Ibrahim al-Baijuri,op.cit.,hlm.413-414,  Taqiyyudin Abu Bakar, Kifayah al-Akhyar, (Beirut: Dar al-Fikr),juz i,hlm.192.
[5] Sa’id bin Muhammad Ba’asyan al-Hadhrami, Busyra al-Karim,(Indonesia :Dar al-Kutub al-Arabiyah,tth),juz ii,hlm.40.
[6] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Juz 1-30, (Surabaya:Danakarya,2004)
[7] Ibn Hajar al-Asqalani, Bulughul Maram, (Semarang: Toha Putera,tth].hlm.649.
lihat juga Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari , Shahih Bukhari, Toha Putera,Semarang, juz ii,[tth]./ Shahih Bukhari, (Maktabah Syamilah), hadis no:1432.
1432 - حدثنا يحيى بن محمد بن السكن: حدثنا محمد بن جهضم: حدثنا إسماعيل ابن جعفر، عن عمر بن نافع، عن أبيه، عن ابن عمر رضي الله عنهما قال:
 فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر، صاعا من تمر أو صاعا من شعير، على العبد والحر، والذكر والأنثى، والصغير والكبير، من المسلمين، وأمر بها أن تؤدى قبل خروج الناس إلى الصلاة.

Abu Dawud al-Sijitsani, Sunan Abu Dawud, (Maktabah Syamilah), hadis no:1611.
1611ـ حدثنا عبد اللّه بن مسلمة، ثنا مالك، وقرأه عليَّ مالك أيضاً، عن نافع، عن ابن عمر
أن رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم فرض زكاة الفطر، قال فيه فيما قرأه عليَّ مالك: زكاة الفطر من رمضان صاع من تمر أو صاع من شعير، على كل حرّ أو عبد، ذكر أو أنثى من المسلمين.